HOME INFORMASI KEANGGOTAAN PROFIL ANGGOTA PROFIL PENGGUNA JASA AREA ANGGOTA HUBUNGI KAMI
HOME

07 Feb 2010
Pengaruh Bahasa Inggris menurut David Hill

Pengaruh bahasa Inggris itu tidak hanya kelihatan dalam kosa kata komputer. Kalau menonton siaran berita di TVRI akan terdengar istilah, seperti illegal logging, illegal fishing, mengadakan scanning, town square, stakeholder, reshuffle kabinet, mafia pengadilan, dan lainnya. Semua tanpa terjemahan Indonesia.

Tidak hanya itu, didalam koran daerah juga muncul istilah seperti kasus mark up pengadaan mobil dinas, cash transfer, enjoy, nomorsatukan crash program, aspirasi diseriusi SBY.

Dari sini bisa terlihat bahwa para penonton ataupun pembaca mereka dianggap sudah terbiasa dengan istilah Inggris sehingga tidak perlu dijelaskan lagi. Apakah ini karena pembelajaran bahasa Inggris di sistem sekolah Indonesia telah dianggap baik sehingga semua penonton berita ataupun pembaca koran daerah sudah mengerti?

Pengaruh itu tidak hanya pada bahasa lisan, tetapi juga pada bahasa badan. Beberapa tahun lalu, seorang budayawan Indonesia mengeluh bahwa anaknya yang ABG telah mengadopsi gerak-gerik meniru apa yang ditonton dalam acara TV Amerika lengkap dengan sapaan "Hi-5", bukan lagi jabat tangan atau sapaan yang lebih "Indonesia".

Bahkan kalau anak itu ingin mencaci-maki atau mengutuk, yang diucapkan "Shit" atau yang lebih kasar lagi dalam bahasa Inggris, tidak lagi menggunakan istilah yang sama kasarnya tapi lebih khas akar Indonesianya!

Bagaimana pendapat para ahli melihat kecenderungan itu? Menurut Benedict Anderson, ahli kebudayaan Indonesia di Universitas Cornell, AS, (yang menulis dalam Ejaan Soewandi) "Bahasa tidak gampang dimonopoli oleh (negara karena) tukang-tukang penjelundup, pengimpor gelap, maling dan bandit bahasa lokal, remaja-remaja jang gile, intelektual nakal, geng-geng residivis dan hombreng, semuanja selalu aktip menggerogoti kedikaturan negara. Bukan itu sadja. Polisi kamus sama sekali tidak berdaja terhadap bahasa-bahasa lisan jang dipakai sehari-hari oleh rakjat dan seribu satu variasinja.

Melihat ini, suka atau tidak, dengan arah perkembangan bahasa Indonesia, sudah jelas tiada lembaga ataupun pemerintah yang dapat membendung arus penciptaan kata-kata ataupun struktur linguistik baru karena itu menyentuh aspek komunikasi yang organik.

Barangkali justru vitalitas bahasa Indonesia inilah yang akan tetap mengalahkan munculnya kembali bahasa-bahasa daerah dalam konstelasi sosio-politik pasca-Soeharto.

Disarikan dari tulisan David T. Hill, guru besar Kajian Asia Tenggara di Universitas Murdoch, Australia Barat

Sumber Berita: Jarod ClickMedia

 

 

 
Berita
Dari Pengurus 
Info Pekerjaan
Unduh Materi Pelatihan
Kamus Penerjemah